Hukum Hindu adalah norma-norma yang bersumber dari ajaran agama Hindu yang mengatur tingkah laku manusia. Istilah hukum dalam agama Hindu adalah Dharma.
Sumber-sumber Hukum Hindu:
1. ŚRUTI
2. SMṚTI (DHARMAŚĀSTRA)
3. SILA (Tingkah laku orang suci)
4. ĀCĀRA (Kebiasaan positif)
5. ATMANASTUTI (Kesepakatan)
6. NIBHANDA (kitab-kitab Hindu di luar Veda seperti lontar-lontar)
7. PASWARA (titah raja)
Dharmaśāstra merupakan kitab-kitab yang khusus memuat tentang peraturan. Dharmaśāstra sendiri terdiri dari 20 kitab, di antaranya:
a. Yajnavalkya
b. Harita
c. Usana
d. Angira
e. Yama
f. Atri
g. Samvarta
h. Katyayana
ij. Vrhaspati
j. Daksa
k. Satapata
l. Likhita
m. Vyasa
n. Parasara
o. Sankha
p. Apastambha
q. Visnu
r. Manu
s. Gautama
t. Vasistha
Situs Hukum Hindu: http://www.hukumhindu.com
Ayurweda (Āyurveda, आयुर्वेद) adalah cabang ilmu dari pustaka suci Weda yang memuat tentang ilmu pengobatan atau penyembuhan. Kitab Ayurweda terdiri dari delapan cabang ilmu lain, di antaranya:
Di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar-Bali menyediakan Fakultas Ayurweda.
Neti-neti (neti neti, नेति नेति) adalah kata berulang yang biasa dipakai dalam berfilsafat Veda yang berarti “tidak begini, tidak begitu”, “tidak seperti ini, tidak seperti itu”, atau yang dalam bahasa Bali berarti “sing kene, sing keto”. Dalam kaitannya dengan Ketuhanan berarti bahwa Tuhan itu neti-neti.
Awighnamastu (avighnamastu) adalah istilah dalam doa yang dipakai sebelum melakukan suatu kegiatan, membaca kitab suci dan saat membuat janji.
Awighnamastu terdiri dari tidak kata Sanskerta, yaitu:
a – tidak
vighna - halangan
astu - semoga
Awighnamastu berarti semoga tidak ada halangan.
Tri Hita Karana atau yang secara umum disingkat dengan THK yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan yang didasari dengan tiga hubungan harmonis. THK adalah sebuah konsep yang berasal dari Bali yang pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar.
THK terdiri dari:
1. Parahyangan: hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Dilakukan dengan cara:
2. Pawongan: hubungan harmonis antara sesama manusia. Dilakukan dengan cara:
3. Palemahan: hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. Dilakukan dengan cara:
Konsep sadar lingkungan yang berasal dari Bali ini telah menjadi inspirasi bagi seluruh dunia.
Bedawang Nala seperti yang dimuat dalam lontar Anda Bhuwana, Padma Bhuwana, dan Adi Parwa adalah sebutan untuk Kurma Awatara yang menjadi poros gunung Mandara, komponen Padmasana paling bawah yang berbentuk kura-kura. Sesungguhnya Bedawang Nala memiliki pengertian ganda, di mana dalam lontar Kaurawasrama menyebutkan Bedawang Nala adalah dasar gunung Mahameru yang berupa ruang yang berisikan api atau magma (Bedawang Nala terdiri dari dua kata bahasa Kawi “beda” yang artinya ruang dan “nala” yang berarti api). Terkadang Bedawang Nala disebut juga sebagai Kurma Agni yang mungkin terdapat kaitan antara dua pengertian tersebut.
Pustaka:
BabadBali
Stiti
Kurma Awatara adalah salah satu penjelmaan Sri Wisnu Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kronologi ceritanya:
Suatu ketika, para dewa dan para raksasa ingin mendapatkan minuman kekekalan atau amertha di lautan Ksira. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana cara untuk mendapatkannya. Untuk mengatasi hal ini, Tuhan menjelma dalam wujud kura-kura raksasa guna mengambil amertha itu. Gunung Mandara digunakan sebagai alat untuk mengocok lautan di mana Kurma Avatara sebagai porosnya dan pada waktu bersamaan Tuhan berada di atas gunung itu guna menyeimbangkannya. Gunung Mandara dililiti oleh naga Basuki sebagai tali untuk menggerakkan gunung itu. Di satu sisi naga Basuki dipegang oleh para raksasa dan di sisi lain dipegang oleh para dewa. Pada waktu itu yang keluar ada berbagai macam barang dan makhluk hidup termasuk dewi Laksmi yang menyerahkan diri sepenuhnya sebagai pelayan setia kepada Narayana atau Wisnu yang duduk di puncak gunung, para dewa dan raksasa sangat menanti amertha itu keluar. Sebelum amertha itu muncul, yang keluar adalah racun sehingga dewa Siwa datang untuk meminum racun tersebut yang menyebabkan leher beliau menjadi hitam dan ular-ular di sekitar dewa Siwa yang awalnya tidak beracun, menjadi beracun setelah menghirup racun tersebut (asal-usul ular memiliki racun). Kemudian Tuhan menjelma sebagai Dhanvantari yang keluar dari lautan sambil membawa amertha yang dinanti-nanti. Untuk membagikannya secara adil Tuhan kembali menjelma sebagai seorang gadis cantik yang begitu mempesona. Dengan kemahatuhanan Beliau, Beliau membagikan amertha yang asli hanya kepada para dewa dan membagikan amertha yang palsu pada para raksasa. Hal ini diketahui oleh seorang raksasa bernama Rahu. Oleh karena itu, ia menyusup ke tempat para dewa agar mendapatkan amertha yang asli. Ketika itu, ia mendapat giliran dan ketika amertha akan sampai ditenggorokannya Sri Wisnu menyadarinya dan melesatkan Cakra-Nya. Ketika amertha telah sampai ditenggorokannya, pada saat itu pula Cakra Sri Wisnu telah memenggal kepalanya sehingga Rahu hidup kekal hanya dengan kepalanya saja.
Bhagavata Purana 1.3.16:
surāsurāṇām udadhiṁ
mathnatāṁ mandarācalam
dadhre kamaṭha-rūpeṇa
pṛṣṭha ekādaśe vibhuḥ
(Penjelmaan Tuhan yang kesebelas menjelma dalam bentuk kura-kura yang kulit-Nya menjadi poros sandaran untuk Bukit Mandarācala, yang sedang dipergunakan sebagai alat pengocok oleh orang yang percaya kepada Tuhan dan yang tidak percaya kepada Tuhan di alam semesta)
Bhagavata Purana 1.3.17:
dhānvantaraṁ dvādaśamaṁ
trayodaśamam eva ca
apāyayat surān anyān
mohinyā mohayan striyā
(Dalam penjelmaan kedua belas, Tuhan muncul sebagai Dhanvantari. Dalam penjelmaan ketiga belas, Beliau mempesona para ateis dengan kecantikan seorang wanita yang memikat dan kemudian memberikan minuman kekalan kepada para dewa untuk diminum)
Gambar-gambar:



Di Bali, Kurma Awatara disebut juga sebagai Bedawang Nala. Tetapi Bedawang Nala sendiri memiliki pengertian ganda. Cerita inilah yang merupakan dasar utama adanya Padmasana sebagai salah satu komponen utama dan penting dalam setiap tempat sembahyang umat Hindu di Indonesia.
Catur Purusa Artha adalah empat tujuan hidup manusia yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Pembagian Catur Purusa Artha adalah sebagai berikut:
Tri Kaya Parisudha berarti tiga perilaku atau perbuatan yang harus disucikan. Tri Kaya Parisudha memiliki pembagian sebagai berikut:

Lila (Sanskerta: līlā, लीला) adalah kegiatan rohani Tuhan di dunia material (termasuk di bumi) yang berupa sandiwara (permainan, hiburan) seolah-olah Tuhan seperti manusia biasa atau dalam wujud tertentu. Lila terakhir yang dilakukan oleh Tuhan adalah pada saat penjelmaan Tuhan sebagai sang Buddha yang mengajarkan cinta dan belas kasih terhadap seluruh makhluk hidup serta ketidakterikatan akan keduniawian. Lila Tuhan yang paling terkemuka adalah pada saat sejarah Ramayana, Mahabharata dan Bhagavata Purana. Lila Tuhan sebagai seorang pangeran bernama Rama yang mengajarkan tentang jiwa kepemimpinan yang baik, kesetiaan, dan hubungan ideal antara orang tua-anak, adik-kakak, suami-istri dan pemimpin-rakyat. Lila lain yang terkenal adalah masa kanak-kanak Krishna. Yang mengajarkan tentang persahabatan, menggambarkan seorang anak nakal yang suka mencuri mentega dan sebagainya.
Lila tidak dapat disamakan dengan kegiatan material manusia biasa, walau pun Tuhan melakukan tindakan yang tampak berdosa, sesungguhnya tidak demikian, ada ajaran tersembunyi di dalamnya yang hanya bisa dipahami di bawah bimbingan guru kerohanian.
Tujuan lila terdapat dalam Bhagavad-gita sebagai berikut:
yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya
tadātmānaḿ sṛjāmy aham

Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bharata. (4.7)
paritrāṇāya sādhūnāḿ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saḿsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge
Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman. (4.8)
Lila Tuhan yang bersifat transenden (sukar dipahami) ini sering diperagakan di seluruh dunia, dalam bentuk tarian, drama, dan juga wayang. Di mana peragaan tersebut, selain sebagai hiburan juga bertujuan untuk menyampaikan ajaran-ajaran dharma yang terkandung di dalamnya.